Senin, 24 November 2025

Tafsir surat Arrahman ayat 33

🕊 QS. Ar-Rahmān ayat 33
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Wahai golongan jin dan manusia, jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah; kalian tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulṭān).”
📌 ASBABUL NUZUL
Menurut ulama tafsir seperti Al-Wahidi & As-Suyuthi:
🔸 Tidak ada asbābun nuzūl khusus untuk ayat ini.
Ayat ini adalah bagian dari deskripsi Hari Kiamat dalam surat Ar-Rahmān dari ayat 31–36.
Ayat ini turun sebagai peringatan keras & tantangan Allah kepada jin dan manusia bahwa:
Pada hari kiamat mereka tidak akan bisa melarikan diri dari hisab,
Tidak bisa kabur dari keputusan Allah,
Dan seluruh kekuatan mereka menjadi tidak berguna.
⭐ TAFSIR PARA ULAMA
1. Tafsir Ibn Katsir
Ayat ini adalah tantangan (tahaddī).
Allah menantang jin dan manusia bahwa meski mereka mencoba kabur melintasi langit & bumi, mereka tidak mungkin mampu kecuali dengan izin/kekuatan Allah.
“As-sulṭān” dalam ayat ini ditafsirkan sebagai:
kekuatan,
ilmu, atau
hujjah (kebenaran).
Pada hari kiamat semua itu tidak berlaku, sehingga tak ada makhluk yang mampu menembus batas ciptaan Allah.
2. Tafsir Ath-Thabari
“Menembus langit dan bumi” berarti:
❗ melarikan diri dari takdir, pahala, atau siksa Allah.
Tak satu pun makhluk akan memiliki kekuasaan untuk menentukan nasibnya sendiri di hadapan Allah.
3. Tafsir Al-Qurthubi
Ayat ini berhubungan dengan keterbatasan makhluk.
Pada hari kiamat, semua kekuatan, teknologi, dan ilmu hilang nilainya.
Sebagian ulama mengaitkan ayat ini dengan:
batas kemampuan manusia menjelajah langit (hingga memiliki ‘sulṭān’ berupa ilmu dan teknologi).
Namun makna utamanya tetap tentang hari kiamat, bukan perintah untuk eksplorasi ruang angkasa.
4. Tafsir As-Sa'di
Ayat ini menunjukkan keagungan & kekuasaan Allah.
Pada hari kiamat jin & manusia benar-benar tak berdaya, bahkan untuk sekadar menyelamatkan diri dari pengadilan Allah.
📘 APA ITU “SULṬĀN”?
Para mufassir memberikan tiga makna utama:
Kekuatan
Ilmu / Pengetahuan
Hujjah / Argumentasi
Pada hari kiamat, semua itu tidak dapat digunakan untuk kabur dari takdir Allah.
🕌 KISAH SAHABAT / ATSAR TERKAIT
Meski tidak ada riwayat sahabat khusus untuk ayat ini, ada beberapa atsar:
1. Umar bin Khattab r.a.
Umar menangis ketika membaca ayat ini dan berkata:
“Kemana kita akan lari dari Allah? Tidak ada tempat kecuali kembali kepada-Nya.”
(Musannaf Abdur Razzaq)
2. Ibnu Abbas r.a.
Ketika membaca ayat ini beliau berkata:
“Ini adalah tantangan Allah kepada jin dan manusia bahwa mereka tidak dapat lari dari pertanggungjawaban.”
(Ad-Durr Al-Mantsur)
🌟 HADIS YANG BERKAITAN
1. Hadis tentang mustahilnya lari dari takdir
Nabi ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak dapat memberimu manfaat kecuali apa yang telah Allah tetapkan.”
(HR. Tirmidzi)
Relevansi: jin & manusia tidak dapat lari dari ketetapan Allah.
2. Hadis tentang kekuasaan Allah atas makhluk
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Relevansi: menunjukkan mustahil bagi makhluk menembus langit atau bumi tanpa izin Allah.
✨ QUOTES / HIKMAH TERKAIT AYAT INI
1.
“Di dunia engkau bisa lari dari manusia, tetapi di hari kiamat engkau tidak bisa lari dari Allah.”
2.
“Sulṭān adalah ilmu, dan ilmu sejati membawa kita semakin tunduk bahwa kita hanyalah makhluk yang tak mampu menembus batas Allah.”
3.
“Ayat ini bukan melarang manusia menjelajah langit, tetapi menunjukkan bahwa semua perjalanan tetap berada di bawah izin Allah.”
🔍 RINGKASAN SINGKAT
Tidak ada asbabun nuzul khusus.
Ayat berbicara tentang Hari Kiamat, bukan teknologi luar angkasa.
Makna intinya:
➤ Jin dan manusia tidak akan bisa lari dari pengadilan Allah,
➤ kecuali dengan “sulṭān” — dan pada kiamat sulṭān itu tidak dimiliki siapa pun.

Jumat, 07 November 2025

Tafsir Surah An-Nur (24) ayat 26

📖 Surah An-Nur (24) ayat 26
Arab:
ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ
Latin:
Al-khabītsātu lil-khabītsīn, wal-khabītsūna lil-khabītsāt, wat-ṭayyibātu liṭ-ṭayyibīn, wat-ṭayyibūna liṭ-ṭayyibāt, ulāika mubarraūna mimmā yaqūlūn, lahum maghfiratun wa rizqun karīm.
Terjemahan (Kemenag RI):
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan kepada mereka. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.
📚 Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat)
Ayat ini turun berkenaan dengan fitnah terhadap Aisyah r.a. (istri Rasulullah ﷺ) dalam peristiwa haditsul ifk, yaitu tuduhan zina yang keji.
Allah menurunkan ayat ini untuk membebaskan dan memuliakan Aisyah, menegaskan bahwa orang-orang baik seperti Rasulullah ﷺ dan istrinya hanya layak untuk yang baik.
💡 Makna dan Hikmah:
Keserasian moral dan spiritual:
Orang yang baik akan cocok dengan yang baik — baik dalam akhlak, iman, dan perbuatan.
Begitu pula orang yang buruk akan tertarik dan serasi dengan yang buruk.
Peringatan agar menjaga diri:
Menjadi “ṭayyib” (baik dan suci) adalah syarat agar Allah memasangkan dengan yang baik pula.
Penegasan pembelaan:
Allah membela orang-orang saleh dari tuduhan palsu dan menjaga kehormatan mereka.
Balasan bagi yang baik:
Mereka yang baik akan mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia di sisi Allah.
✨ Kesimpulan Singkat
“At-thayyibīn liṭ-ṭayyibāt” bermakna laki-laki yang baik hanya pantas bagi perempuan yang baik, dan sebaliknya. Ayat ini mengandung pelajaran agar setiap mukmin berusaha memperbaiki diri, karena jodoh, kehormatan, dan kehidupan yang baik adalah untuk orang-orang yang baik pula.