Minggu, 15 Juni 2025

Dalil Tempat munculnya fitnah ada di Najd


Dalil tempat munculnya fitnah ada di Najd

Kenapa harus ditakwil bahwa Najed adalah Iraq?

Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin mengatakan Iraq maka Beliau akan langsung katakan Iraq,

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. 
[Shahih Sunan Nasa’i, no. 2656]

⛔️ Kenapa harus tersinggung ketika disebut Najed?

⛔️ Kenapa harus marah ketika disebut Najed?

⛔️ Kenapa harus ngamuk ketika disebut Najed?

Utsman bin Bisyr yang bernama lengkap Utsman bin Abdullah bin Utsman bin Ahmad bin Bisyr seorang sejarawan ketiga di antara lima sejarawan Su’udiyyah (Arab Saudi) yang paling diandalkan, beliau wafat tahun 1290 H atau 1873 M. 
Di antara gurunya adalah Ibrahim bin Muhammad bin Abdul Wahhab (putra Muhammad bin Abdul Wahhab).

Beliau mengatakan bahwa Najd hijaz adalah gudangnya fitnah dan kejahatan

واعلم رحمك الله أن هذه الجزيرة النجدية هي موضع الاختلاف والفتن، ومأوى الشرور والمحن، والقتل والنهب والعدوان بين أهل القرى والبلدان، ونخوة الجاهلية بين قبائل العربان

”Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya Jazirah Najd ini adalah tempat perselisihan dan berbagai macam fitnah, tempat keburukan, ujian, pembunuhan, perampokan dan permusuhan di antara desa dan kotanya dan sisa kejahiliaan di antara qabilah Arab."

📚 Kitab Tarikh Unwan Al-Majdi juzuk 2 halaman 3.

Fitnah dari timur adalah fitnah dari orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, kabilah Bani Tamim dari Najd

📌 Dari Kabilah Bani Tamim.

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan)." 
(HR. Bukhari, no. 3341)

📌 Dari Najd

"Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Abdurrahman bin Abu Nu’m dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Ketika Ali bin Abi Thalib berada di Yaman, dia pernah mengirimkan emas yang masih kotor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu emas itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada empat kelompok. Yaitu kepada Aqra` bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badar Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al Amiri, termasuk Bani Kilab dan Zaid Al Khair Ath Thay dan salah satu Bani Nabhan. Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, Kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku? Abu Sa’id berkata; Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin Walid) meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh orang itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad." 
(HR. Muslim, no. 1762).

📌 Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:

“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” 

📚 Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262

📌 Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” 

📚 Hasyiyah as Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307

📌 Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).

“Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” 

📚 Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275

Wallahu A'lam, semoga bermanfaat.

📝 Admin OKD Islami

Bagikan keteman, saudara atau sanak famili anda agar mereka juga menambah ilmu.

Rabu, 11 Juni 2025

Dalil bersentuhan kulit antara suami istri membatalkan wudhu

 Dalam mazhab Syafie mengatakan batal bersentuhan suami dan isteri kerana mereka bukan mahram walaupun tanpa syahwat. Dalilnya ada di dalam Al-Quran :
 وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
".. Dan jika kamu sakit (tidak boleh kena air), atau dalam pelayaran, atau salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air, atau kamu sentuh perempuan, sedang kamu tidak mendapat air (untuk berwuduk dan mandi), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah - debu yang bersih, iaitu: sapulah muka kamu dan kedua belah tangan kamu dengan tanah - debu itu." 
[Al-Maidah :6]

Imam Syafie berpendapat bahawa yang dimaksudkan dengan أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ ialah bersentuhan kulit dengan kulit walaupun tanpa syahwat. Hal ini selari dengan pendapat sahabat Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Mas'ud dan lain-lain. Diriwayatkan dari Abdullah Bin Umar beliau berkata :
قُبْلَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَجَسُّهَا بِيَدِهِ مِنْ الْمُلَامَسَةِ فَمَنْ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ أَوْ جَسَّهَا بِيَدِهِ فَعَلَيْهِ الْوُضُوءُ

“Ciuman dan rabaan tangan lelaki pada isterinya termasuk mulamasah. Barangsiapa yang mencium isterinya atau merabanya, wajib baginya berwudhu.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwatha’, dengan sanad sahih). Pendapat inilah yang lebih berhati-hati kerana dilihat dari segi zahir ayat Al-Quran iaitu menyentuh perempuan bukan mahram membatalkan wuduk. Inilah pendapat mu'tamad dalam mazhab Syafie yang boleh dibaca dalam kitab-kitab mazhab Syafie. 

Adapun hadith berkenaan Sayidatina Aisyah menyentuh perut dua kaki baginda telah dibahas oleh para ulama. Imam Abu Hanifah dan yang lain berpendapat tidak batal dengan melihat kepada hadith ini. Sedangkan Imam Syafie, Imam Maliki, Imam Ahmad dan kebanyakan ulama berpendapat batal dan mereka berbeza pendapat dalam memperincikan hal tersebut. Menurut pendapat Imam Syafie dan selainnya orang yang disentuh tidak batal wuduk. Manakala pendapat paling unggul dari kalangan ashab Syafie mengatakan sentuhan Aisyah tersebut di atas penghalang maka tidak batal. Demikian keterangan dari Imam Nawawi dalam Syarah Muslimnya. Bahkan menurut Imam Nawawi jumhur ulama berpendapat sentuhan suami isteri membatalkan wuduk. Oleh itu dakwaan jumhur oleh Dr Rozaimi menyalahi dakwaan jumhur oleh Imam Nawawi. Saya lebih cenderung memilih dakwaan jumhur Imam Nawawi disebabkan beliau termasuk ulama muhaqiqin. Boleh baca rujukan di bawah :
استدل به من يقول لمس المرأة لا ينقض الوضوء وهو مذهب أبي حنيفة رضى الله عنه وآخرين وقال مالك والشافعي وأحمد رحمهم الله تعالى والأكثرون : ينقض واختلفوا في تفصيل ذلك وأجيب عن هذا الحديث بأن الملموس لا ينتقض على قول الشافعي رحمه الله تعالى وغيره وعلى قول من قال ينتقض وهو الراجح عند أصحابنا يحمل هذا اللمس على أنه كان فوق حائل فلا يضر
[Syarah Muslim : 3/273]
استدل به من يقول : لمس النساء لا ينقض الوضوء والجمهور على أنه ينقض
[Syarah Muslim :3/307]

 3.  Tidak boleh berpindah pendapat mazhab lain untuk tujuan mencari-cari kemudahan melainkan ada masyaqqah (kesusahan) dan keperluan mendesak. Perkara inilah yang telah ditetapkan oleh para ulama dalam mazhab Syafie. Imam Zainuddin Al-Malibari berkata :
ثُمَّ لَهُ وَإِنْ عَمِلَ بِالْأَوَّلِ الْإِنْتِقَالُ إِلَى غَيْرِهِ بِالْكُلْيَّةِ ، أَوْ فِي الْمَسَائِلِ بِشَرْطِ أَنْ لَا يَتَتبع َ الرخص ، بِأَنْ يَأْخُذَ مِنْ كُلِّ مَذْهَبِ بِالْأَسْهَلِ مِنْهُ ، فَيَفْسُقُ بِهِ عَلَى الْأَوْجَهِ
"Kemudian boleh baginya (muqallid) jika beramal dengan pendapat yang pertama (wajib sepakat dengan mazhab imamnya) untuk berpindah ke mazhab yang lain secara menyeluruh (seperti dari mazhab Syafie pindah ke mazhab Hanafi), ataupun(berpindah) dalam beberapa masalah dengan syarat tidak mencari-cari keringanan. Seperti mengambil dari setiap mazhab pendapat yang paling mudah maka ia menjadi fasiq dengan sebabnya."
[Fath Al-Muin : 614]
 
Jika seseorang ingin mengikuti pendapat seorang imam mazhab dalam satu masalah maka hendaklah dia mengamalkan satu qadhiyah mazhab dalam masalah tersebut. Misalkan seseorang yang ingin bertaqlid mazhab Hanafi dalam masalah solat menghadap jihah (arah) kiblat (manakala dalam mazhab Syafie wajib solat menghadap ain kiblat, bukan jihah) maka dia wajib mengamalkan wuduk dan solat mengikut mazhab Hanafi. Maka ketika berwuduk wajib menyapu kepala seukuran ubun-ubun kepala, tidak mengalir darah dari badannya setelah berwuduk dan sebagainya. Demikianlah fatwa Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan disepakati oleh para ulama muhaqqiqin seperti Imam Ibnu Daqiq Al-Aid, Imam Subki, Imam Isnawi, Imam Iraqi, Imam Rafie, Qadhi Husain dan lain-lain.
[Rujuk Fath Al-Muin : 614] 

Tujuan syarat ini ditetapkan kerana untuk mengelak seseorang itu melakukan 'talfiq' yang dilarang oleh para ulama. Seperti contoh bertaqlid Imam Syafie dalam menyapu sebahagian kepala dan Imam Malik dalam sucinya anjing dalam satu solat maka taqlid demikian tidak sah. Kerana ia merupakan talfiq (penggabungan) di antara dua pendapat yang muncul satu hakikat darinya iaitu solat yang mana kedua-dua imam (Imam Syafie dan Imam Malik) berpendapat tidak sah solat tersebut. (Imam Malik berpendapat tidak sah wuduk dengan menyapu sebahagian kepala manakala Imam Syafie berpendapat najisnya anjing)
[Rujuk I'anah At-Thalibin : 4/250]

Sayangnya perkara ini yang tidak menjadi perhatian orang awam semasa bertaqlid pendapat mazhab yang lain. Mereka justeru melakukan talfiq ketika berpindah pendapat yang mengatakan tidak batal sentuhan suami dan isteri. Apabila mereka berwuduk dengan bertaqlid mazhab Syafie iaitu menyapu sebahagian kepala dan menyentuh isteri/suami tanpa syahwat dengan bertaqlid mazhab Maliki maka solatnya batal menurut pendapat kedua-dua imam tersebut. Kerana menurut Imam Syafie menyentuh suami/isteri batal wuduk manakala menurut Imam Malik menyapu sebahagian kepala tidak mencukupi dalam wuduk. Oleh itu seseorang yang ingin bertaqlid Imam Malik dalam hal tidak batal menyentuh suami isteri hendaklah mengamalkan satu qadhiyah dalam hal wuduk dan solat dalam mazhab Maliki. Dan hal ini tidak mudah bagi orang awam di Malaysia untuk mempelajari mazhab selain mazhab Syafie. 

KESIMPULAN

Di dalam enakmen fatwa Negeri Selangor, Wilayah Persekutuan dan lain-lain telah menetapkan bahawa setiap fatwa hendaklah diikuti oleh tiap-tiap orang yang berada di negeri masing-masing. Dan mazhab orang awam ialah mengikuti mazhab mufti di negerinya sendiri. Menyalahi fatwa dianggap berdosa kerana tidak taat kepada ulil amri. Apalagi keputusan hakim ialah bertujuan menghilangkan khilaf. Dalam kaedah fiqh disebut :
حكم الحاكم يرفع الخلاف
"Keputusan hakim mengangkat segala khilaf. "

Mazhab yang disusun oleh para imam dan para ashabnya bertujuan memudahkan pengikutnya untuk mengamalkan agama. Akan tetapi bukanlah menjadi tiket kepada kita untuk mencari keringanan dan bermudah-mudah dalam amal agama. Oleh itu saudara dan saudari, janganlah ragu-ragu dalam mengikuti mazhab Imam Syafie dan para ashabnya. Amalkan dengan penuh yakin kerana meniti jalan mereka bermaksud kita meniti jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan sahabat. 
Wallahu A'lam. 

Al-Faqir
Mohamed Arafat At-Tambary